Bakteri Staphylococcus Aureus
Bakteri Staphylococcus Aureus
Staphylococcus
aureus merupakan salah satu bakteri patogen penting yang berkaitan
dengan virulensi toksin, invasif, dan ketahanan terhadap antibiotik. Bakteri S. aureus dapat menyebabkan terjadinya
berbagai jenis infeksi mulai dari infeksi kulit ringan, keracunan makanan
sampai dengan infeksi sistemik. Infeksi yang terjadi misalnya keracunan makanan
karena Staphylococcus, salah satu jenis
faktor virulensi yaitu Staphylococcus enterotoxin
(Ses). Gejala keracunan makanan akibat
Staphylococcus adalah kram perut, muntah-muntah
yang kadang-kadang di ikuti oleh diare. Staphylococcus
aureus adalah bakteri gram positif dengan diameter 0,5-1,0 mm, berbentuk
serangkaian buah anggur, tidak membentuk spora dan tidak bergerak. Staphylococcus adalah bakteri berbentuk
kokus, gram-positif dan memiliki diameter 0,5-1,0 mm, berkelompok, berpasangan
dan kadang berantai pendek. (Karimela et
al . 2017)
Staphylococcus
aureus termasuk dalam keluarga Micrococcaceae, sel bersifat Gram positif, bentuk bulat (kokus),
dalam koloni berbentuk khas seperti rangkaian anggur. Bakteri ini terdapat pada
pori-pori, permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus. S.aureus dapat memproduksi enam macam enterotoksin yang terdiri dari enterotoksin
A, B, C1, C2, D dan E. Pembentukan enterotoksin oleh S.aureus di dalam makanan dipengaruhi oleh sifat dan komposisi
substrat, serta suhu dan pH. S.aureus
dapat menghasilkan enterotoksin pada
yang sudah matang atau makanan dipanaskan kembali. Meskipun telah dimasak,
makanan-makanan tersebut masih dapat mengalami kontaminasi. Misalnya oleh
tangan selama penyimpanan sebelum dikonsumsi. Staphylococcus aureus merupakan Gram positif yang dapat
mempertahankan warna ungu dari kristal violet, sehingga akan terlihat koloni
yang berwarna ungu. (Puspadewi et al. 2017)
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif
berbentuk bulat berdiameter 0,7-1,2 μm, tersusun dalam kelompok yang tidak
teratur seperti buah anggur, fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan
tidak bergerak. Lebih dari 90% isolat klinik menghasilkan S. aureus yang mempunyai kapsul polisakarida atau selaput tipis
yang berperan dalam virulensi bakteri. Staphylococcus
aureus merupakan salah satu bakteri yang menginfeksi organ reproduksi
jantan, dapat mengontaminasi semen yang dapat menyebabkan penularan ke organ
reproduksi betina pada saat perkawinan. Staphylococcus
aureus dapat tumbuh pada temperatur antara 150-450 dan pada NaCl 15% mampu
memfermentasi manitol serta mampu memfermentasi glukosa menghasilkan asam
laktat. Staphylococcus aureus memiliki
plasmid yang berada di luar kromosom, plasmid mengandung berbagai macam gen,
salah satu gennya adalah resistensi terhadap antibiotik. (Rahmi et al. 2015)
Staphylococcus
aureus merupakan bakteri dominan penyebab mastitis
subklinis. Staphylococcus aureus
memiliki kemampuan untuk menjadi resisten terhadap antibiotik dengan
memproduksi sejumlah besar faktor virulensi termasuk sejumlah exotoxin dan protein membran sel. Bentuk
koloni bulat besar, bulat kecil, berkelompok seperti buah anggur, dan beberapa ireguler,
dengan warna putih dan kuning terdapat zona bening. Staphylococcus aureus merupakan bagian dari flora normal susu segar
dan olahannya, namun bakteri ini mampu menyebabkan terjadinya wabah keracunan makanan.
Staphylococcus aureus termasuk jenis
bakteri yang tidak mudah untuk diisolasi karena umumnya bercampur dengan flora
normal coagulase negative staphylococcus (CoNS) yaitu S. epidermidis dan Staphylococcus
haemolyticus. Staphylococcus aureus
akan memfermentasi warna merah mannitol menjadi kuning dan pada pewarnaan gram
akan berbentuk coccus berwarna ungu. Bakteri ini merupakan bakteri pembentuk
enterotoksin yang dapat menyebabkan keracunan
pangan. S. aureus memiliki
karakteristik ukuran sedang, warna putih kekuningan dan memiliki koloni dengan
pola hemolisis pada agar darah adalah α-dan β-hemolysis. (Herlina et al . 2015)
Staphylococcus
aureus (S. aureus) adalah salah satu yang paling umum patogen
manusia menyebabkan berbagai gejala infeksi yang berbeda pada keduanya jenis
kelamin dan semua kelompok usia. Kemunculan dan penyebarannya isolat S. aureus resisten antimikroba, terutama
methicillin tahan S. aureus (MRSA) merupakan tantangan global
untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri ini. Infeksi yang
disebabkan oleh bakteri tahan memperpanjang durasi tinggal di rumah sakit,
meningkatkan biaya layanan perawatan kesehatan, dan yang terpenting,
menyebabkan peningkatan morbiditas yang signifikan dan tingkat kematian. S. aureus mengembangkan resistensi
terhadap antimikroba dengan cara yang berbeda mekanisme. Mekanisme ini termasuk
membatasi pengambilan obat, modifikasi target obat, inaktivasi enzimatik obat,
dan efflux obat yang aktif. Bergantung pada antimikroba yang terlibat, bakteri
bisa menggunakan satu atau beberapa di antaranya mekanisme resistensi. Secara
khusus, lokalisasi perlawanan. (Yilmaz dan Atlantas 2015)
Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri yang
paling banyak berada di dalamnya luka kronis, termasuk borok Buruli (BU) yang
disebabkan oleh Mycobacterium ulcerans.
Kehadiran S. aureus merupakan risiko
potensial untuk infeksi luka, terutama jika mereka menghasilkan faktor
virulensi yang lebih besar daripada inangnya yang memiliki emampuan untuk
melawan mereka sebenarnya. S. aureus
terkenal karena menghasilkan berbagai faktor virulensi yang terlibat dalam
persistensi kolonisasi, infeksi, kerusakan jaringan dan penyembuhan luka yang
tertunda. (Amissah et al 2017)
DAFTAR
PUSTAKA
Amissah
N. A. , M. A. Chlebowiczc ., A.
Ablordeyb., C. S. Tettehb., I. Prahb ., T. S. V. D Werfa., A. W. Friedrichc.,
J. M.V Dijlc., Y. Stienstraa dan J. W. Rossen. 2017. Virulence potential of
Staphylococcus aureus isolates from Buruli ulcer patients. International
Journal of Medical Microbiology. 307 : 223–232.
Herlina,
N., F. Afiati., A. D. Cahyo., P. D. Herdiyani, Qurotunnada dan B. Tappa. 2015. Isolasi
dan Identifikasi Staphylococcus aureus dari Susu Mastitis Subklinis di
Tasikmalaya, Jawa Barat. 1(3) : 413 - 417
Karimela,
E. J., F. G. Ijong dan H. A Dien. 2017. Karakteristik Staphylococcus Aureus yang di Isolasi dari Ikan Asap Pinekuhe Hasil
Olahan Tradisional Kabupaten Sangihe. JPHPI. 20 (1) : 189 -198
Puspadewi,
R., P. Adirestuti dan A. Abdulbasith. 2017. Deteksi Staphylococcus Aureus dan Salmonella
pada Jajanan Sirup. Jurnal Ilmiah Manuntung. 3(1) : 26 – 33
Rahmi,
Y., Darmawi., M. Abrar., F. Jamin.,
Fakhrurrazi dan Y. Fahrimal. 2015. Identifikasi Bakteri Staphylococcus Aureus Pada Preputium dan Vagina Kuda (Equus Caballus). Jurnal Medika
Veterinaria. 9 (2) : 154 – 159.
Yılmaz,
E. S., dan O. Aslantas. 2017. Antimicrobial resistance and underlying
mechanisms in Staphylococcus aureus isolates. Asian Pacific Journal of Tropical
Medicine. 10 (11) : 1059–1064.
FIRDA NURDIANA NOMER URUT 20 BAKTERI (DIBAWAH)
Identical Proteins-Identical proteins to EGA98898.1
Score | Expect | Method | Identities | Positives | Gaps | Frame |
---|---|---|---|---|---|---|
125 bits(313) | 3e-35 | Compositional matrix adjust. | 65/77(84%) | 66/77(85%) | 1/77(1%) | -2 |
Query 453 KVPPYLNGTCSSLTTELYDPKTFITHAALLRQTFVHCGRFPTAASRRSLGRVSVPVWPIT 274 V YL+ CSSL TE YDPKTFITHAALLRQ F HCGRFPTAASRRSL RVSVPVWPIT Sbjct 24 DVHSYLH-ICSSLITEFYDPKTFITHAALLRQAFAHCGRFPTAASRRSLDRVSVPVWPIT 82 Query 273 LSGRLRIVALVSRYLTN 223 LSGRL IVALVSRYLTN Sbjct 83 LSGRLCIVALVSRYLTN 99
Score | Expect | Method | Identities | Positives | Gaps | Frame |
---|---|---|---|---|---|---|
53.1 bits(126) | 3e-35 | Compositional matrix adjust. | 21/25(84%) | 23/25(92%) | 0/25(0%) | -1 |
Query 520 LPPTYYRGCWHVVSRGFLVRYRQGA 446 +PPTYYRGCWHVVSRGFL+RYRQ Sbjct 1 MPPTYYRGCWHVVSRGFLIRYRQDV 25
Mantap..
BalasHapus